Sabtu, 06 April 2013

Sejarah Kota Medan

Kota Medan

Sejarah Kota Medan
Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590. John Anderson, orang Eropa pertama yang mengunjungi Deli pada tahun 1833 menemukan sebuah kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk 200 orang dan seorang pemimpin bernama Tuanku Pulau Berayan sudah sejak beberapa tahun bermukim disana untuk menarik pajak dari sampan-sampan pengangkut lada yang menuruni sungai. Pada tahun 1886, Medan secara resmi memperoleh status sebagai kota, dan tahun berikutnya residen Pesisir Timur serta Sultan Deli pindah ke Medan. Tahun 1909, Medan menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran. Dewan kota yang pertama terdiri dari 12 anggota orang Eropa, dua orang bumiputra, dan seorang Tionghoa.[6]
Pemandangan udara kota Medan pada tahun 1920-an
Daerah Kesawan tahun 1920-an
Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat dua gelombang migrasi besar ke Medan. Gelombang pertama berupa kedatangan orang Tionghoa dan Jawa sebagai kuli kontrak perkebunan. Tetapi setelah tahun 1880 perusahaan perkebunan berhenti mendatangkan orang Tionghoa, karena sebagian besar dari mereka lari meninggalkan kebun dan sering melakukan kerusuhan. Perusahaan kemudian sepenuhnya mendatangkan orang Jawa sebagai kuli perkebunan. Orang-orang Tionghoa bekas buruh perkebunan kemudian didorong untuk mengembangkan sektor perdagangan. Gelombang kedua ialah kedatangan orang Minangkabau, Mandailing dan Aceh. Mereka datang ke Medan bukan untuk bekerja sebagai buruh perkebunan, tetapi untuk berdagang, menjadi guru dan ulama.
Sejak tahun 1950, Medan telah beberapa kali melakukan perluasan areal, dari 1.853 ha menjadi 26.510 ha pada tahun 1974. Dengan demikian dalam tempo 25 tahun setelah penyerahan kedaulatan, kota Medan telah bertambah luas hampir delapan belas kali lipat.

Pemerintahan

Kota Medan dipimpin oleh seorang wali kota. Saat ini, jabatan wali kota Medan dijabat oleh Rahudman Harahap dengan jabatan wakil wali kota dijabat oleh Dzulmi Eldin. Wilayah Kota Medan dibagi menjadi 21 kecamatan dan 151 kelurahan.
Medan Tuntungan
Medan Johor
Medan Amplas
Medan Denai
Medan Area
Medan Kota
Medan Maimun
Medan Polonia
Medan Baru
Medan Selayang
Medan Sunggal
Medan Helvetia
Medan Petisah
Medan Barat
Medan Timur
Medan Perjuangan
Medan Tembung
Medan Deli
Medan Labuhan
Medan Marelan
Medan Belawan

Wali kota
Daniël Mackay
1918 - 1931

J.M. Wesselink
1931 - 1935

G. Pitlo
1935 - 1938

C.E.E. Kuntze
1938 - 1942

Shinichi Hayasaki (早崎 真一 Hayasaki Shinichi?)
1942 - 1945

Luat Siregar
3 Oktober - 10 November 1945

M. Yusuf
10 November 1945 - Agustus 1947

Djaidin Purba
1 November 1947 - 12 Juli 1952

A.M. Jalaluddin
12 Juli 1952 - 1 Desember 1954

Hadji Muda Siregar
6 Desember 1954 - 14 Juni 1958

Madja Purba
3 Juli 1958 - 28 Februari 1961

Basyrah Lubis
28 Februari 1961 - 30 Oktober 1964

P.R. Telaumbanua
10 Oktober 1964 - 28 Februari 1965

Aminurrasyid
28 Agustus 1965 - 26 September 1966

Sjoerkani
26 September 1966 - 3 Juli 1974

M. Saleh Arifin
3 Juli 1974 - 31 Maret 1980

Agus Salim Rangkuti
1 April 1980 - 31 Maret 1990

Bachtiar Djafar
1 April 1990 - 31 Maret 2000

Abdillah
1 April 2000 - 20 Agustus 2008

Afifuddin Lubis (penjabat)
20 Agustus 2008 - 22 Juli 2009[7]

Rahudman Harahap (penjabat)
23 Juli 2009[7]- 16 Februari 2010[8]

Syamsul Arifin (penjabat)
16 Februari 2010[8] - 25 Juli 2010[2][3][4]

Rahudman Harahap[9]
26 Juli 2010 - sekarang[2][3][4]

Geografi
Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km²) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan kota/kabupaten lainya, Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis kota Medan terletak pada 3° 30' – 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35' - 98° 44' Bujur Timur. Untuk itu topografi kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5 - 37,5 meter di atas permukaan laut.

Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu daerah yang kaya dengan sumber daya alam (SDA), khususnya di bidang perkebunan dan kehutanan. Karena secara geografis Medan didukung oleh daerah-daerah yang kaya sumber daya alam, seperti Deli Serdang, Labuhan Batu, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Karo, Binjai dan lain-lain. Kondisi ini menjadikan kota Medan secara ekonomi mampu mengembangkan berbagai kerjasama dan kemitraan yang sejajar, saling menguntungkan, saling memperkuat dengan daerah-daerah sekitarnya.
Di samping itu sebagai daerah pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka, Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor). Posisi geografis Medan ini telah mendorong perkembangan kota dalam dua kutub pertumbuhan secara fisik, yaitu daerah Belawan dan pusat Kota Medan saat ini.
Sungai
Sedikitnya ada sembilan sungai yang melintasi kota ini:
Sungai Belawan
Sungai Badera
Sungai Sikambing
Sungai Putih
Sungai Babura
Sungai Deli
Sungai Sulang-Saling
Sungai Kera
Sungai Tuntungan
Selain itu, untuk mencegah banjir yang terus melanda beberapa wilayah Medan, pemerintah telah membuat sebuah proyek kanal besar yang lebih dikenal dengan nama Medan Kanal Timur.

Situs pariwisata
Ada banyak bangunan-bangunan tua di Medan yang masih menyisakan arsitektur khas Belanda. Contohnya: Gedung Balai Kota lama, Kantor Pos Medan, Menara Air Tirtanadi(yang merupakan ikon kota Medan), Titi Gantung - sebuah jembatan di atas rel kereta api, dan juga Gedung London Sumatera.
Selain itu, masih ada beberapa bangunan bersejarah, antara lain Istana Maimun, Masjid Raya Medan, dan juga rumah Tjong A Fie di kawasan Jl. Jend. Ahmad Yani (Kesawan).
Daerah Kesawan masih menyisakan bangunan-bangunan tua, seperti bangunan PT. London Sumatra, dan ruko-ruko tua seperti yang bisa ditemukan di Penang, Malaysia dan Singapura. Ruko-ruko ini, kini telah disulap menjadi sebuah pusat jajanan makan yang ramai pada malam harinya. Saat ini Pemerintah Kota merencanakan Medan sebagai Kota Pusat Perbelanjaan dan Makanan. Diharapkan dengan adanya program ini menambah arus kunjungan dan lama tinggal wisatawan ke kota ini.
Di daerah Kesawan ini, terdapat Kantor Notaris/PPAT Hj. Chairani Bustami, S.H. yang merupakan salah satu Notaris tertua di Medan, setelah Alm. A.P. Parlindungan, S.H. Saat ini Hj. Chairani telah pensiun dan aktif mengajar di Universitas Sumatera Utara. Aktivitas kantor ini kemudian digantikan oleh putra-putrinya yang juga meneruskan profesi orang tuanya sebagai Notaris.

Bangunan Tua
Kantor Balai Kota
Kantor Pos Medan
Stasiun Kereta Api Lama
Menara Bakaran Batu
Istana Maimun
Menara Air Tirtanadi
Tjong A Fie Mansion
PT PP London Sumatera
Gedung Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Medan
Gedung sekolah al wasliyah tembung

Hotel
Grand Angkasa International Hotel
Danau Toba International Hotel
JW Marriott
Grand Aston City Hall
Grand Swissbell Hotel
The Aryaduta Hotel
Hotel Citi International
Santika Premiere Dyandra Hotel
Hotel Deli River
Garuda Plaza Hotel
Alpha Inn
Grand Delta Hotel
Asean International Hotel
Hotel Soechi International
Hotel Tiara Medan
Hotel Haji Amir
Hotel Candi

empat Ibadah
Masjid Al Osmani Medan Labuhan
Masjid Raya Medan
Masjid Al-Musabbihin TASBI Blok C
Masjid Al-Huda, Jl Perjuangan Tj. Rejo
Graha Bunda Maria Annai Velangkani
Katedral Roma Katholik
Kuil Shri Mariamman
Maha Vihara Maitreya
Kelenteng Gunung Timur

Wisata Kuliner
Merdeka Walk, pusat jajanan 24 jam yang terletak di Lapangan Merdeka Medan dan tepat berada di seberang Balai Kota Medan.
Ramadhan Fair, khusus dibuka pada saat bulan puasa (Ramadhan) terletak bersebelahan dengan Masjid Raya Medan.
Kuliner Pagaruyung, masakan India & Indonesia di daerah "Kampung Keling" ("Kampung Madras").
Pasar Merah Square, terletak di Jalan H.M. Jhoni, berdekatan dengan Kampus ITM & UMSU.
Amaliun Food Court, terletak di Jalan Amaliun, dekat dengan Yuki Simpang Raya.
Jalan Dr. Mansyur (Kampus USU), pilihan berbagai cafe yang menawarkan beragam hidangan.
Jalan Semarang, masakan Tionghoa pada malam hari.

Transportasi
Darat
Terminal yang melayani warga Medan:
Terminal Sambu
Terminal Pinang Baris
Terminal Amplas
Keunikan Medan terletak pada becak bermotornya (becak mesin/ becak motor) yang dapat ditemukan hampir di seluruh Medan. Berbeda dengan becak biasa (becak dayung), becak motor dapat membawa penumpangnya kemana pun di dalam kota. Selain becak, dalam kota juga tersedia angkutan umum berbentuk minibus (angkot/oplet) dan taksi. Pengemudi becak berada di samping becak, bukan di belakang becak seperti halnya di Jawa, yang memudahkan becak Medan untuk melalui jalan yang berliku-liku dan memungkinkan untuk diproduksi dengan harga yang minimal, karena hanya diperlukan sedikit modifikasi saja agar sepeda atau sepeda motor biasa dapat digunakan sebagai penggerak becak. Desain ini mengambil desain dari sepeda motor gandengan perang Jerman di Perang Dunia II.
Sebutan paling khas untuk angkutan umum adalah Sudako. Sudako pada awalnya menggunakan minibus Daihatsu S38 dengan mesin 2 tak kapasitas 500cc. Bentuknya merupakan modifikasi dari mobil pick up. Pada bagian belakangnya diletakkan dua buah kursi panjang sehingga penumpang duduk saling berhadapan dan sangat dekat sehingga bersinggungan lutut dengan penumpang di depannya.
Trayek pertama kali sudako adalah "Lin 01", (Lin sama dengan trayek) yang menghubungkan antara daerah Pasar Merah (Jl. HM. Joni), Jl. Amaliun dan terminal Sambu, yang merupakan terminal pusat pertama angkutan penumpang ukuran kecil dan sedang. Saat ini "Daihatsu S38 500 cc" sudah tidak digunakan lagi karena faktor usia, dan berganti dengan mobil-mobil baru seperti Toyota Kijang, Isuzu Panther, Daihatsu Zebra, dan Espass.
Selain itu, masih ada lagi angkutan lainnya yaitu bemo, yang berasal dari India. Beroda tiga dan cukup kuat menanjak dengan membawa 11 penumpang. Bemo kemudian digantikan oleh Bajaj yang juga berasal dari India, yang di Medan dikenal dengan nama "toyoko".
Kereta api menghubungkan Medan dengan Tanjungpura di sebelah barat laut, Belawan di sebelah utara, dan Binjai-Tebing Tinggi-Pematang Siantar dan Tebing Tinggi-KisaranTanjungbalai-Rantau Prapat di tenggara. Jalan Tol Belmera menghubungkan Medan dengan Belawan dan Tanjung Morawa. Jalan tol Medan-Tebing Tinggi, Medan-Kuala Namu dan Medan-Binjai juga sedang direncanakan pembangunannya.

Laut
Pelabuhan Belawan terletak di bagian utara kota. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan Indonesia tersibuk di luar pulau Jawa. Layanan kapal feri menghubungkan Belawan dengan Penang, Malaysia.

Udara
Bandar Udara Internasional Polonia yang terletak tepat di jantung kota, menghubungkan Medan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Batam, Palembang, Jakarta, Gunung Sitoli serta Kuala Lumpur, Penang, Ipoh, Alor Setar di Malaysia, dan Singapura. Sebuah bandara internasional baru di Kuala Namu di kabupaten Deli Serdang sedang dalam pembangunan.

Surat kabar
Kota Medan juga memiliki beberapa terdiri dari 22-surat kabar seperti:
Nasional (12-surat kabar)
The Jakarta Post
Koran SINDO
Media Indonesia
Kompas
Suara Pembaruan
Sinar Harapan
Republika
Koran Tempo
Koran Jakarta
Investor Daily
Media Indonesia
Bisnis Indonesia

Lokal (10-surat kabar)
Analisa
Sumut Pos
Waspada
Andalas
Medan Bisnis
Sinar Indonesia Baru
Jurnal Medan
Pos Metro Medan
Tribun Medan
Metro 24-Jam

Plaza dan Mal
Deli Plaza, Sinar Plaza, Menara Plaza, digabung menjadi satu dengan nama "Deli Grand City".
Grand Palladium, terletak di Medan Petisah.
Plaza Medan Fair, terletak di Medan Petisah.
Medan Mall, terletak di Pusat Pasar.
Medan Plaza, satu di antara plaza tertua di Medan. Plaza ini berhasil bertahan karena tetap mempertahankan penyewa kios yang menyediakan beragam barang dan jasa yang ekonomis.
Millenium Plaza, pusat penjualan telepon genggam, dulu bernama "Tata Plaza" sampai dengan tahun 1999.
Sun Plaza, terletak di dekat Kantor Gubernur Sumatera Utara di Medan Petisah.
Cambridge City Square, di atasnya terdapat 4 bangunan yang berupa apartemen.
Thamrin Plaza, terletak di Medan Area, Medan.
Perisai Plaza, sejak tahun 2006 Perisai Plaza mulai tutup secara perlahan.
Olympia Plaza, satu di antara plaza tertua di Medan, bersebelahan dengan Medan Mall. Namun kini sudah tidak beroperasi sebagai tempat grosir pakaian, sepatu dan barang pecah belah.
Brastagi Mall, awalnya bernama Price Mart. Selanjutnya berganti nama menjadi The Club Store. Setelah direnovasi, plaza ini berganti nama menjadi Mall The Club Store. Dan akhirnya berganti nama menjadi Brastagi Mall.
Hong Kong Plaza - Novotel Soechi
Macan Group (Macan Yaohan, Macan Syariah, Macan Mart, Macan Mart Syariah)
Lotte Mart Wholesale, dulu bernama Makro.
Yuki Pasar Raya dan Yuki Simpang Raya
Yanglim Plaza

Pasar
Pusat Pasar, salah satu pasar tradisional tua di Medan yang sudah ada sejak zaman kolonial. Menyediakan beragam kebutuhan pokok dan sayur mayur.
Pasar Petisah. pemerintah kota menggabungkan pasar tradisional dan pasar modern. Tak heran jika sekarang tampilannya tidak kumuh dan becek seperti pasar tradisional umumnya. Pasar Petisah menjadi acuan berbelanja yang murah dan berkualitas.
Pasar Beruang, terletak di Jalan Beruang.
Pasar Simpang Limun, salah satu pasar tradisonal yang cukup tua dan menjadi merek dagang kota Medan. Terletak di persimpangan Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Sakti Lubis. Saat ini sedang dalam tahap penataan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas akibat kesibukan pasar ini.
Pasar Ramai, pasar ini terletak di persimpangan Jalan Aksara & Jalan Thamrin yang bersebelahan dengan Thamrin Plaza.
Pasar Simpang Melati, pasar ini terkenal sebagai tempat perdagangan pakaian bekas dan menjadi lokasi favorit baru para pemburu pakaian bekas setelah Pasar Simalingkar dan Jl. Pancing. Pasar Simpang Melati ramai dikunjungi pada akhir pekan.
Pasar Ikan Lama, pasar ini tidak menjual ikan, pasar ini memasarkan tekstil yang cukup terkenal, bahkan tak jarang dijadikan sebagai obyek kunjungan wisata bagi para turis asing.

Ada keunikan tersendiri dalam pengucapan Pasar di kalangan masyarakat di Medan. Orang Medan biasanya menyebut Pasar dengan sebutan Pajak seperti menyebut Pajak Petisah, Pajak Ikan Lama, dll sehingga orang dari luar daerah Kota Medan bingung dengan mengira merujuk kepada kantor Dinas Perpajakan. Tidak diketahui asal-usul kebiasaan pengucapan ini di Kalangan Masyarakat di Kota Medan.

Olahraga
Beberapa klub olahraga yang terdapat di Medan antara lain klub sepak bola: PSMS Medan, Medan Jaya, Medan Chiefs, Bintang PSMS Medan dan Medan United; dan klub basket: Angsapura Sania. Gelanggang olahraga yang terdapat di Medan antara lain Stadion Teladan, Stadion Kebun Bunga, dan GOR Angsapura. Sedangkan lapangan berolahraga adalah Lapangan Merdeka, Lapangan Persit Chandra Kirana (Jalan Gaperta), dan Lapangan Benteng.

Tokoh
Tokoh terkenal yang lahir di Medan:
Peter Alma, seniman Belanda
Chairil Anwar, penyair Indonesia
Jan Gualtherus van Breda Kolff, pemain sepak bola Belanda
Let. Jend. Djamin Ginting, Mantan Panglima Kodam I/BB
Tengku Amir Hamzah, Pujangga
Burhanuddin Harahap, Perdana Menteri Indonesia ke-9
Kees Hoving, perenang Belanda
Cees Korvinus, politikus dan advokat Belanda
John Juanda, pemain poker Amerika Serikat
Guru Patimpus Sembiring Pelawi, pendiri Kota Medan
Amir Sjarifuddin, Perdana Menteri Indonesia ke-2
Soegiarto, Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia di Kabinet Indonesia Bersatu sebelum Perombakan II
Babs van Wely, ilustrator Belanda
Ruhut Sitompul, pengacara dan politikus Indonesia
Joko Anwar, sutradara Indonesia



( Nah ini lah yg saya ketahui ,
jk ad yg jurang.,
saya ingin teman2 memberi tahu..,
untuk menambah pengetahuan saya)


Daftar pustaka
(Indonesia) Suti, Bayo Medan Menuju Kota Metropolitan (Yayasan Potensi Pengembangan Daerah, Medan, 1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar