Selasa, 30 April 2013

EPIDEMIOLOGI TEORI PENYEBAB Penyakit

Nama     : Agustina Purba
Nim        : 1112180005
Program : D-3 Kebidanan
AKBID HELVETIA MEDAN

 EPIDEMIOLOGI TEORI PENYEBAB Penyakit

Proses terjadinya penyakit sebenarnya telah dikenal sejak zaman Romawi yaitu pada masa galenus (205-130 SM) yang mengungkapkan bahwa penyakit dapat terjadi karena adanya faktor predisposisi, faktor penyebab, dan faktor lingkungan. (Eko Budiarto. 2002: 15).
Keadaan tersebut dapat dianalogikan seperti kembangan suatu tanaman. Agent diumpamakan sebagai biji, host sebagai tanah, dan route of transmission sebagai iklim. (Soekidjo Notoatmodjo, 2007:39).


Perkembangan Teori Terjadinya Penyakit
Epidemiologi sebagai suatu ilmu berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangan itu dilatar-belakangi oleh beberapa hal:
1.      Tantangan zaman di mana terjadi perubahan masalah dan perubahan pola penyakit. Sewaktu zaman John Snow, epidemiologi mengarahkan dirinya untuk masalah penyakit infeksi dan wabah. Dewasa ini telah terjadi perubahan pola penyakit ke arah penyakit tidak menular, dan epidemiologi tidak hanya diperhadapkan dengan masalah penyakit tetapi juga hal lain baik yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan penyakit atau kesehatan, serta masalah non kesehatan.
2.      Perkembangan ilmu pengatahuan lainnya. Pengetahuan klinik kedokteran berkembang begitu pesat disamping perkembangan ilmu lainnya seperti biostatistik, administrasi dan ilmu perilaku. Perkembangan ilmu ini juga meniupkan angin segar untuk perkembangan epidemiologi
Dengan demikian terjadilah perubahan dan perkembangan pola pikir para ahli kesehatan masyarakat dari masa ke masa sesuai dengan kondisi zaman dimana mereka berada.
Khusus mengenai pandangan terhadap proses terjadinya atau penyebab penyakit telah dikemukakan beberapa konsep atau teori. Beberapa teori tentang kausa terjadinya penyakit yang pernah dikemukakan adalah:
a.     Contagion Theory
Di Eropa, epidemi sampar, cacar dan demam tifus merajalela pada abad ke-14 dan 15. Keadaan buruk yang dialami manusia pada saat itu telah mendorong lahirnya teori bahwa kontak dengan makhluk hidup adalah penyebab penyakit menular. Konsep itu dirumuskan oleh Girolamo Fracastoro (1483-1553). Teorinya menyatakan bahwa penyakit ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui zat penular (transference) yang disebut kontagion.
Fracastoro membedakan tiga jenis kontagion, yaitu:
1.      Jenis kontagion yang dapat menular melalui kontak langsung, misalnya bersentuhan, berciuman, hubungan seksual.
2.      Jenis kontagion yang menular melalui benda-benda perantara (benda tersebut tidak tertular, namun mempertahankan benih dan kemudian menularkan pada orang lain) misalnya melalui pakaian, handuk, sapu tangan.
3.      Jenis kontagion yang dapat menularkan pada jarak jauh
Pada mulanya teori kontagion ini belum dinyatakan sebagai jasad renik atau mikroorganisme yang baru karena pada saat itu teori tersebut tidak dapat diterima dan tidak berkembang. Tapi penemunya, Fracastoro, tetap dianggap sebagai salah satu perintis dalam bidang epidemiologi meskipun baru beberapa abad kemudian mulai terungkap bahwa teori kontagion sebagai jasad renik. Karantina dan kegiatan-kegiatan epidemik lainnya merupakan tindakan yang diperkenalkan pada zaman itu setelah efektivitasnya dikonfirmasikan melalui pengalaman praktek.

b.      Hipocratic Theory
Hipocrates (460-377 SM), yang dianggap sebagai Bapak Kedokteran Modern, telah berhasil membebaskan hambatan-hambatan filosofis pada zaman itu yang bersifat spekulatif dan superstitif (tahayul) dalam memahami kejadian penyakit. Ia mengemukakan teori tentang sebab musabab penyakit, yaitu bahwa:
1.      Penyakit terjadi karena adanya kontak dengan jasad hidup, dan
2.      Penyakit berkaitan dengan lingkungan eksternal maupun internal seseorang. Teori itu dimuat dalam karyanya berjudul “On Airs, Waters and Places”.
Hippocrates mengatakan bahwa penyakit timbul karena pengaruh Iingkungan terutama: air, udara, tanah, cuaca (tidak dijelaskan kedudukan manusia dalam Iingkungan).
Yang melatarbelakangi timbulnya pernyataan tersebut yaitu karena di Yunani pada saat itu terjadi banyak penyakit menular dan menjadi epidemik dan saat menyaksikan pasiennya meninggal, ia sangat frustasi dan putus asa sebagai seorang dokter. Kemudian ia pun melakukan observasi tentang penyebab dan penyebaran penyakit di populasi. Hippocrates belajar mengenai penyakit menggunakan tiga metode ; Observe, Record, dan Reflect.
Hippocrates melakukan pendekatan deskriptif sehingga ia benar-benar mengetahui kondisi lingkungannya. Ia kemudian mempelajari tentang istilah prepatogenesis, yaitu faktor yang mempengaruhi seseorang yang sehat sehingga bisa menjadi sakit. Metode yang digunakan Hippocrates adalah metode induktif, artinya data yang sekian banyak ia dapatkan, ia kumpulkan dan diolah menjadi informasi. Informasi ini kemudian dikembangkan menjadi hipotesis.
Hippocrates juga merujuk dan memasukkan ke dalam teorinya apa yang sekarang disebut sebagai teori atom, yaitu segala sesuatu yang berasal dari partikel yang sangat kecil. Teori ini kemudian dianggap tidak benar oleh kedokteran modern. Menurut teorinya, tipe atom terdiri dari empat jenis: atom tanah (solid dan dingin), atom udara (kering), atom api (panas), atom air (basah). Selain itu ia yakin bahwa tubuh tersusun dari empat zat: flegma (atom tanah dan air), empedu kuning (atom api dan udara), darah (atom api dan air) dan empedu hitam (atom tanah dan udara). Penyakit dianggap terjadi akibat ketidakseimbangan cairan sementara demam dianggap terlalu banyak darah.
Hipocrates sudah dikenal sebagai orang yang tidak pernah percaya dengan tahayul atau keajaiban tentang terjadinya penyakit pada manusia dan proses penyembuhannya. Dia mengatakan bahwa masalah lingkungan dan perilaku hidup penduduk dapat mempengaruhi tersebarnya penyakit dalam masyarakat. Yang dianggap paling mengesankan dari faham atau ajaran Hipocrates ialah bahwa dia telah meninggalkan cara-cara berfikir mistis-magis dan melihat segala peristiwa atau kejadian penyakit semata-mata sebagai proses atau mekanisme yang alamiah belaka. Contoh kasus dari teori ini adalah perubahan cuaca dan lingkungan yang merupakan biang keladi terjadinya penyakit.
c.       Miasmatic theory
Kira-kira pada awal abad ke-18 mulai muncul konsep miasma sebagai dasar pemikiran untuk menjelaskan timbulnya wabah penyakit. Kosnep ini dikemukakan oleh Hippocrates. Miasma atau miasmata berasal dari kata Yunani yang berarti something dirty (sesuatu yang kotor) atau bad air (udara buruk). Miasma dipercaya sebagai uap yang dihasilkan dari sisa-sisa makhluk hidup yang mengalami pembusukan, barang yang membusuk atau dari buangan limbah yang tergenang, sehingga mengotori udara, yang dipercaya berperan dalam penyebaran penyakit. Contoh pengaruh teori miasma adalah timbulnya penyakit malaria. Malaria berasal dari bahasa Italia mal dan aria yang artinya udara yang busuk. Pada masa yang lalu malaria dianggap sebagai akibat sisa-sisa pembusukan binatang dan tumbuhan yang ada di rawa-rawa. Penduduk yang bermukim di dekat rawa sangat rentan untuk terjadinya malaria karena udara yang busuk tersebut.
Pada waktu itu dipercaya bahwa bila seseorang menghirup miasma, maka ia akan terjangkit penyakit. Tindakan pencegahan yang banyak dilakukan adalah menutup rumah rapat-rapat terutama di malam hari karena orang percaya udara malam cenderung membawa miasma. Selain itu orang memandang kebersihan lingkungan hidup sebagai salah satu upaya untuk terhindar dari miasma tadi. Walaupun konsep miasma pada masa kini dianggap tidak masuk akal, namun dasar-dasar sanitasi yang ada telah menunjukkan hasil yang cukup efektif dalam menurunkan tingkat kematian.
Dua puluh tiga abad kemudian, berkat penemuan mikroskop oleh Anthony van Leuwenhoek, Louis Pasteur menemukan bahwa materi yang disebut miasma tersebut sesungguhnya merupakan mikroba, sebuah kata Yunani yang artinya kehidupan mikro (small living)
d.      Germ Theory
Penemuan-penemuan di bidang mikrobiologi dan parasitologi oleh Louis Pasteur (1822-1895), Robert Koch (1843-1910), Ilya Mechnikov (1845-1916) dan para pengikutnya merupakan era keemasan teori kuman. Para ilmuwan tersebut mengemukakan bahwa mikroba merupakan etiologi penyakit.
Louis Pasteur pertama kali mengamati proses fermentasi dalam pembuatan anggur. Jika anggur terkontaminasi kuman maka jamur mestinya berperan dalam proses fermentasi akan mati terdesak oleh kuman, akibatnya proses fermentasi gagal. Proses pasteurisasi yang ia temukan adalah cara memanasi cairan anggur sampai temperatur tertentu hingga kuman yang tidak diinginkan mati tapi cairan anggur tidak rusak. Temuan yang paling mengesankan adalah keberhasilannya mendeteksi virus rabies dalam organ saraf anjing, dan kemudian berhasil membuat vaksin anti rabies. Atas rintisan temuan-temuannya memasuki era bakteriologi tersebut, Louis Pasteur dikenal sebagai Bapak dari Teori Kuman.
Robert Koch juga merupakan tokoh penting dalam teori kuman. Temuannya yang paling terkenal dibidang mikrobiologi  adalah Postulat Koch yang terdiri dari:
1.      Kuman harus dapat ditemukan pada semua hewan yang sakit, tidak pada yang sehat,
2.      Kuman dapat diisolasi dan dibuat biakannya,
3.      Kuman yang dibiakkan dapat ditularkansecara sengaja pada hewan yang sehat dan menyebabkan penyakit yang sama
4.      Kuman tersebut harus dapat diisolasi ulang dari hewan yang diinfeksi.
e.       Epidemiology Triangle
Model tradisional epidemiologi atau segitiga epidemiologi dikemukakan oleh Gordon dan La Richt (1950), menyebutkan bahwa timbul atau tidaknya penyakit pada manusia dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan environment. Gordon berpendapat bahwa:
1.      Penyakit timbul karena ketidakseimbangan antara agent (penyebab) dan manusia (host)
2.      Keadaan keseimbangan bergantung pada sifat alami dan karakteristik agent dan host (baik individu/kelompok)
3.      Karakteristik agent dan host akan mengadakan interaksi, dalam interaksi tersebut akan berhubungan langsung pada keadaan alami dari lingkungan (lingkungan sosial, fisik, ekonomi, dan biologis).
Agen Penyakit
Agen penyakit dapat berupa benda hidup atau mati dan faktor mekanis, namun kadang-kadang untuk penyakit tertentu, penyebabnya tidak diketahui seperti pada penyakit ulkus peptikum, penyakit jantung koroner dan lain-lain.
unsur penyebab penyakit dapat dibagi dalam dua bagian utama, yakni :
1.      Penyebab kausal primer
Unsur ini dianggap sebagi faktor kausal terjadinya penyakit, dengan ketentuan bahwa walaupun unsur ini ada, belum tentu terjadi penyakit. Sebaliknya pada penyakit tertentu, unsur ini selalu dijumpai sebagai unsur penyebab kausal. Unsur penyebab kausal ini dapat dibagi dalam 5 kelompok utama.
1)      Unsur penyebab biologis, yakni semua unsur penyebab yang tergolong makhluk hidup termasuk kelompok mikroorganisme (Nur Nasry Noor, 2008:30). seperti :
a.       Virus,
b.      Bakteri,
c.       Jamur,
d.      Parasit,
e.       Protozoa,
f.       Metazoa.
       (Eko Budiarto. 2002: 15).
Unsur penyebab ini pada umumnya dijumpai pada penyakit infeksi dan penyakit menular. (Nur Nasry Noor, 2008:30).
2)     Unsur penyebab nutrisi, yakni semua unsur penyebab yang termasuk golongan zat nutrisi dan dapat menimbulkan penyakit tertentu karena kekuranagn maupun kelebihan zat nutrisi tertentu seperti protein, lemak, hidrat arang, vitamin, mineral
3)     Unsur penyebab kimiawi yakni semua unsur dalam bentuk senyawaan kimia yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan/penyakit tertentu. Unsur ini pada umumnya berasal dari luar tubuh termasuk berbagai jenis zat racun, obat-obat keras, berbagai senyawaan kimia tertentu dan lain sebagainya, bentuk senyawaan kimia ini dapat berbentuk padat, cair, uap, maupun gas. Adapula senyawaan kimiawi sebagai hasil produk tubuh (dari dalam) yang dapat menimbulkan penyait tertentu seperti ueum, kolesterol, dan lain-lain
4)    Unsur penyebab fisika yakni semua unsur yang dapat menimbulkan penyakit melalui proses fisika, umpamanya panas (luka bakar), irisan, tikaman, pukulan (rudapaksa) radiasi dan lain-lain. Proses kejadian penyakit dalam hal ini terutama melalui proses fisika yang dapat menimbulkan kelainan dan gangguan kesehatan.
5)      Unsur  penyebab psikis yakni semua unsur yang bertalian dengan kejadian penyakit gangguan jiwa serta gangguan tingkah laku sosial. Unsur penyebab ini belum jelas proses dan mekanisme kejadian dalam timbulnya penyakit, bahkan sekelompok ahli lebih menitikbertkan kejadian penyakit pada unsur penyebab genetika. Dalam hal ini kita harus berhati-hati terhadap factor kehidupan sosial yang bersifat nonkausal serta lebih menampakkan diri dalam hubungannya dengan proses kejadian penyakit maupun gangguan kejiwaan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada sifat hubungan kausal, antara lain:
1.        Kuatnya hubungan statistik, artinya makin kuat hubungan statistik antara kausal dan efek makin besar kemungkinannyya mempunyai hubungan kausal.
2.        Adanya hubungna dosis respons, artinya peningkatan dosis pada factor kausal akan meningkatkan pula kemungkinan terjadinya efek, dan sebaliknya.
3.        Adanya konsistensi berbagai penemuan penelitian, artinya hasil yang dicapai relevan dengan penemuan-penemuan sebelumnya.
4.        Hubungannya bukan hasil sementara, artinya hasil hubungan tersebut bukan situasi sementara, melainkan lebih bersifat lanjut.
5.        Sesuai dengan teori yang sudah ada, artinya hasil yang dicapai dalam hubungan tersebut sesuai pula dengan teori yang sudah ada atau tidak bertentangan dengan teori yang telah di uji kebenarannya.
6.        Sesuai dengan hasil percobaan laboratorium, artinya bila dilakukan uji coba laboratorium akan memberikan hasil yang tidak berbeda.
7.        Sesuai dengan hukum biologis artinya hubungan tersebut tidak bertentangan dengan hokum biologis yang ada.
(Nur Nasry Noor, 2008:30-32)
2.      Penyebab non kausal sekunder
Penyebab sekunder merupakan unsur pembantu/penambah dalam proses kejadian penyakit dan ikut dalam hubungan sebab akibat terjadinya penyakit. Dengan demikian, dalam setiap analisis penyebab penyakit, kita tidak hanya berpusat pada penyebab kausal primer semata, tetapi harus memperhatikan semua unsur lain di luar unsur penyebab kausal primer. Hal ini didasarkan pada ketentuan bahwa pada umumnya, kejadian setiap penyakit sangat dipengaruhi oleh berbagai unsur yang berinteraksi dengan unsur penyebab dan ikut dalam proses sebab akibat. Faktor yang terinteraksi dalam proses kejadian penyakit dalam epidemiologi digolongkan dalam faktor resiko. Sebagai contoh pada penyakit kardiovaskuler, tuberkulosis, kecelakaan lalulintas, dan lain sebagainya. Kejadiannya tidak dibatasi hanya pada penyebab kausal saja, tetapi harus dianalisis dalam bentuk suatu rantai sebab akibat yang peranan unsur penyebab sekundernya sangat kuat dalam mendorong penyebab kausal primer untuk dapat secara bersama-sam menimbulkan penyakit. (Nur Nasry Noor, 2008:32).
1.      Faktor pejamu (host)
“Pejamu” ialah keadaan manusia yang sedemikian rupa sehingga menjadi faktor resiko untuk terjadinya penyakit. Faktor ini disebut faktor instrinsik.
Faktor “pejamu” dan “agen” dapat diumpamakan sebagai tanah dan benih. Tumbuhnya benih tergantung keadaan tanah yang dianalogikan dengan timbulnya penyakit yang tergantung dan keadaan pejamu. (Eko Budiarto. 2002: 15).
Unsure pejamu (host) terutama pejamu manusia dapat dibagi dalam 2 kelompok sifat utama, yakni: pertama, sifat yang erat hubungannya dengan manusia sebagai makhluk biologis dan kedua, sifat manusia sebagai makhluk sosial. (Nur Nasry Noor, 2008:32-33).
a.       Manusia sebagai makhluk biologis memiliki sifat biologis tertentu, seperti:
1.         Keadaan fisiologi. Kehamilan dan persalinan memudahkan terjadinya berbagai penyakit, seperti keracunan kehamilan, anemia, dan psikosis pasca partum.
2.         Kekebalan. Orang-orang yang tidak mempunyai kekebalan terhadap suatu penyakit akan mudah terserang oleh penyakit tersebut.
3.         Penyakit yang diderita sebelumnya, misalnya reumatoid atritis yang mudah kambuh.
4.         Ras dan keturunan (genetik), misalnya penyakit herediter seperti hemofilia, sickle cell anemia, dan gangguan glukosa non-fosfatase.
5.         Umur, misalnya usia lanjut mempunyai resiko untuk terkena karsinoma, penyakit jantung , dan lain-lain.
6.         Jenis kelamin, misalnya penyakit kelenjar gondok, kolesistisis, reumatoid atritis, diabetes melitus (cenderung terjadi pada wanita), penyakit jantung, dan hipertensi (menyerang laki-laki).
7.         Bentuk anatomis tubuh..
8.         Kemampuan interaksi antara pejamu dan penyebab secara biologis.
9.         Status gizi secara umum.
(Nur Nasry Noor, 2008:32-33; Eko Budiarto. 2002: 15).
b.      Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai berbagai sifat khusus, seperti:
1.     Kelompok etnik termasuk adat, kebiasaan, agama, dan hubungan keluarga serta hubungan sosial kemasyarakatan.
2.     Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial sehari-hari termasuk kebiasaan hidup sehat.
3.     Keseluruhan unsure tersebut di atas merupakan sifat karakteristik individu sebagai pejamu akan ikut memegang peranan dalam proses kejadian penyakit yang dapat berfungsi sebagai factor resiko.
(Nur Nasry Noor, 2008: 33)
3.      Faktor lingkungan
“Lingkungan” merupakan faktor ketiga sebagai penunjang terjadinya penyakit. Faktor ini disebut “faktor ekstrinsik”. (Eko Budiarto. 2002: 16).
Unsur lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam menentukan terjadinya proses interaksi antara pejamu dengan unsure penyebab dalam proses terjadinya penyakit. Secara garis besarnya, maka unsure lingkungan dapat dibagi dalam 3 bagian utama.
a.       Lingkungan biologis
Segala flora dan fauna yang berada di sekitar manusia yang antara lain meliputi:
1.     Berbagai mikroorganisme pathogen dan yang tidak pathogen.
2.     Berbagai binatang dan tumbuhan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia, baik sebagai sumber kehidupan (bahan makanan dan obat-obatan), maupun sebagai reservoir/ sumber penyakit atau pejamu antara (host intermedia).
3.     Fauna sekitar manusia yang berfungsi sebagai vector penyakit tertentu terutama penyakit menular.
Lingkungan biologis tersebut sangat berpengaruh dan memegang peranan penting dalam interaksi antara manusia sebagai pejamu dengan unsure penyebab, baik sebagai unsure lingkungan yang menguntungkan manusia (sebagai sumber kehidupan) maupun yang mengancam kehidupan/ kesehatan manusia.
b.      Lingkungan fisik
Keadaan fisik sekitar manusia yang berpengaruh terhadap manusia baik secara langsung, maupun terhadap lingkungan biologis dan lingkungan sosial manusia. Lingkungan fisik (termasuk unsure kimiawi dan radiasi) meliputi:
1.  Udara, keadaan cuaca, geografis, dan geologis.
2.  Air, baik sebagai sumber kehidupan maupun sebagai sumber penyakit serta berbagai unsure kimiawi serta berbagai bentuk pencemaran pada air.
3.  Unsur kimiawi lainnya dalam bentuk pencemaran udara, tanah dan air, radiasi dan lain sebagainya.
Lingkungan fisik ini ada yang terbentuk secara alamiah, tetapi banyak pula yang timbul akibat kegiatan manusia sendiri.
c.       Lingkungan sosial ekonomi
Semua bentuk kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik. System organisasi, serta institusi/ peraturan yang berlaku bagi setiap individu yang membentuk masyarakat tersebut. Lingkungan sosial ini meliputi:
1.     System hukum, administrasi dan kehidupan sosial politik serta system ekomoni yang berlaku.
2.     Bentuk organisasi masyarakat yang berlaku setempat.
3.     Sistem pelayanan kesehatan serta kebiasaan hidup sehat masyarakat setempat.
4.     Kepadatan penduduk, kepadatan rumah tangga, dan berbagai system kehidupan sosial lainnya.
(Nur Nasry Noor, 2008: 33-35)
5.     Pekerjaan. Pekerjaan yang berhubungan dengan zat kimia seperti pestisida atau zat fisika seperti zat radioaktif atau zat yang bersifat karsinogen seperti abses akan memudahkan terkena penyakit akibat pemaparan terhadap zat-zat tersebut.
6.     Perkembangan ekonomi. Peningkatan ekonomi rakyat akan mengukur pola konsumsi yang cenderung memakan makanan yang mengandung banyak kolesterol. Keadaan ini memudahkan timbulnya penyakit hipertensi dan penyakit jantung sebagai akibat kadar kolesterol darah yang meningkat. Sebaliknya bila tingkat ekonomi rakyat yang rendah akan timbul masalah perumahan yang tidak sehat, kurang gizi, dan lain-lain yang memudahkan timbulnya penyakit infeksi.
7.     Bencana alam. Terjadinya bencana alam akan mengubah sistem ekologi yang tidak diramalkan sebelumnya. Misalnya gempa bumi, banjir, meletusnya gunung berapi, dan perang yang akan menyebabkan kehidupan penduduk yang terkena bencana menjadi tidak teratur. Keadaan ini memudahkan timbulnya berbagai penyakit infeksi.
                       
Selain faktor-faktor di atas, sifat-sifat mikroorganisme sebagai agen penyebab penyakit juga merupakan faktor penting dalam proses timbulnya penyakit infeksi. Sifat-sifat mikroorganisme tersebut antara lain:
1.              Patogenesis
2.              Virulensi
3.              Tropisme
4.              Serangan terhadap pejamu
5.              Kecepatan berkembang biak
6.              Kemampuan menembus jaringan
7.              Kemampuan memproduksi toksin
8.              Kemampuan menimbulkan kekebalan
Dari keseluruhan unsur tersebut di atas, hubungan interaksi antara satu dengan lainnya akan menentukan proses dan arah dari proses kejadian penyakit, baik pada perorangan, maupun dalam masyarakat. Dengan demikian, maka terjadinya suatu penyakit tidak hanya ditentukan oleh unsure penyebab semata, tetapi yang utama adalah bagaimana rantai penyebab dan hubungan sebab akibat dipengaruhi oleh berbagai factor maupun unsure lainnya. Oleh sebab itu, dalam setiap proses terjadinya penyakit, kita selalu memikirkan adanya penyebab jamak (multiple causation). Hal ini sangat berpengaruh dalam menetapkan progam pencegahan maupun penanggulangan penyakit tertentu, karena usaha tersebut hanya akan memberikan hasil yang diharapkan bila dalam perencanaannya, kita memperhitungkan berbagai unsure tersebut di atas.
Dengan epidemiologi modern dewasa ini, proses kejadian penyakit tidak hanya dititikberatkan pada penyebab kausal semata, tetapi terutana diarahkan pada interaksi antara penyebabnya, pejamu dan lingkungan, yang menyatu dalam satu kondisi, baik pada individu maupun pada masyarakat. Kondisi ini menentukan proses kejadian penyakit yang dikenal dengan kondisi atau factor resiko (risk factor).
(Nur Nasry Noor, 2008: 33-35)


f.          The Web of Causation
Model ini dicetuskan oleh MacMahon dan Pugh (1970). Prinsipnya adalah setiap efek atau penyakit tidak pernah tergantung hanya kepada sebuah faktor penyebab, melainkan tergantung kepada sejumlah faktor dalam rangkaian kausalitas sebelumnya sebagai akibat dari serangkaian proses sebab akibat. Ada faktor yang berperan sebagai promotor, ada pula sebagai inhibitor. Semua faktor tersebut secara kolektif dapat membentuk “web of causation” dimana setiap penyebab saling terkait satu sama lain. Perubahan pada salah satu faktor dapat berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit. Kejadian penyakit pada suatu populasi mungkin disebabkan oleh gejala yang sama (phenotype), mikroorganisme, abnormalitas genetik, struktur sosial, perilaku, lingkungan, tempat kerja dan faktor lainnya yang berhubungan. Dengan demikian timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan memotong rantai pada berbagai titik. Model ini cocok untuk mencari penyakit yang disebabkan oleh perilaku dan gaya hidup individu
                                                                              
DAFTAR PUSTAKA
Bress,P,. 1998. Public Health Action in emergencies Causes by epidemic. World Health Organization
Budiarto,E & Anggraeni, D. 2001. Pengantar epidemiologi edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGJ
Budioro B. 2001. Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Bustan, M.N. 2006. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Bustan, M.N., Arsunan, A. 2002. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: PT Rineka Cipta
Chandra, Budiman. 2006. Ilmu Kedokteran Pencegahan dan Komunitas. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Heru Subaris K dkk. 2006. Manajemen Epidemiologi. Yogyakarta: Media Pressindo
Kasjono, Heru Subaris. 2008. Intisari Epidemiologi. Jogjakarta : Mitra Cendekia
Martini. Modul Materi Dasar Epidemiologi semester 3.
Murti, Bhisma. 1997. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Rajab, Wahyudin. 2008. Buku Ajar Epidemologi Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Timmreck, Thomas c. 2001. Epidemiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar